
Indonesia secara luas telah diakui sebagai negara yang mengalami kemunduran demokrasi, dengan berbagai studi yang menyoroti penurunan hak-hak sipil dan politik (Warburton & Aspinall, 2019; Aspinall, Fossati, Muhtadi & Warburton, 2020). Meskipun sebagian besar diskusi tentang erosi demokrasi berfokus pada manuver politik yang didorong oleh elite, sama pentingnya untuk melihat bagaimana pergeseran ini dipahami dan dialami oleh anak muda. Sebagai generasi yang akan membentuk masa depan demokrasi di negara ini, pemuda Indonesia memainkan peran penting dalam memperkuat atau melawan perubahan tersebut (Kwak et al., 2020).
Studi ini menyelidiki bagaimana anak muda Indonesia (usia 18–25 tahun) menghadapi ruang sipil yang semakin menyempit, termasuk persepsi mereka terhadap ruang publik yang aman dan ramah anak muda, tantangan yang mereka hadapi untuk mengakses ruang-ruang tersebut, serta pandangan mereka terhadap responsivitas pemerintah. Dengan menganalisis baik pemuda yang terlibat dalam aktivitas politik maupun mereka yang berada di luar lingkup aktivisme formal, penelitian ini memberikan pemahaman menyeluruh tentang bagaimana kemunduran demokrasi dijalani, ditafsirkan, dan dilawan di tingkat akar rumput.
Selain itu, dengan berfokus pada aktivis muda, studi ini juga menyoroti strategi yang mereka gunakan untuk mempertahankan partisipasi demokratis di tengah meningkatnya tekanan politik.
Bagian kuantitatif dari studi ini merupakan survei potong lintang yang menyelidiki perspektif pemuda Indonesia (usia 18–25 tahun) terhadap isu-isu ruang sipil. Studi ini menelaah kesadaran pemuda akan ruang sipil, persepsi mereka terhadap keamanan dan aksesibilitas, pandangan terhadap responsivitas pemerintah, serta tingkat keterlibatan politik dan sosial mereka. Selain itu, terdapat komponen eksperimen yang mengukur bagaimana paparan terhadap informasi mengenai penindasan terhadap aktivis memengaruhi persepsi dan keterlibatan sipil anak muda.
Bagian kualitatif menggunakan wawancara semi-terstruktur dengan 100 aktivis masyarakat sipil Indonesia dari organisasi gerakan sosial yang sudah mapan maupun yang sedang berkembang. Dalam wawancara tersebut, kami menanyakan penilaian para aktivis terhadap situasi saat ini, inovasi strategis mereka di tengah kemunduran demokrasi, serta proyeksi mereka terhadap masa depan demokrasi Indonesia.
Kami mewawancarai para informan yang mendorong agenda progresif di empat sektor:
1. kelompok rentan, gender, dan hak asasi manusia,
2. kesehatan dan pendidikan,
3. lingkungan dan sumber daya alam, serta
4. ketimpangan, perburuhan, dan pemberdayaan ekonomi.


