
Universitas Indonesia, Depok, 18 April 2026 - Yayasan Partisipasi Muda (YPM) kembali menyelenggarakan program Academia Politica di wilayah Jabodetabek, bertempat di Aula Juwono Sudarsono (AJS), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Indonesia. Kegiatan ini diikuti oleh 95 orang muda berusia 16–24 tahun yang berasal dari berbagai daerah di Jabodetabek dan sekitarnya.
Mengusung tema “From FOMO to Overconsumption: Ketika Tren Jadi Toxic Buat Bumi”, kegiatan ini mengajak peserta untuk memahami keterkaitan antara budaya konsumsi berlebihan yang dipicu media sosial dengan krisis iklim yang semakin nyata. Melalui simulasi perumusan kebijakan publik (role-playing), para peserta berperan sebagai aktor-aktor strategis seperti DPR/DPRD, pemerintah, pelaku bisnis, akademisi, hingga organisasi masyarakat sipil.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, YPM menghadirkan empat narasumber dari berbagai latar belakang untuk memperkaya perspektif peserta.
Dari sektor korporasi, Ariq Gilang Narendra (Unilever Indonesia) menekankan bahwa keberlanjutan tidak bisa dicapai secara parsial. Dunia usaha harus berjalan seiring dengan kebijakan publik dan kolaborasi lintas sektor. Ia juga menyoroti pentingnya penerapan Sustainable Consumption and Production (SCP) di seluruh rantai nilai bisnis.
Dari perspektif pemerintah daerah, Adam Faza Gimnastiar (Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta) menjelaskan pergeseran pendekatan pengelolaan lingkungan dari end of pipe menuju pendekatan preventif berbasis SCP. Pemerintah, menurutnya, berperan sebagai regulator, fasilitator, sekaligus katalisator dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat.
Sementara itu, Muhammad Imam (Dosen Ilmu Politik FISIP UI) menekankan bahwa krisis iklim merupakan isu politik yang tidak terlepas dari proses pengambilan keputusan. Ia mendorong orang muda untuk aktif terlibat dalam proses kebijakan, bukan hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai aktor perubahan.
Menutup sesi seminar, Neildeva Despendya (Co-Founder & Direktur Eksekutif YPM) menyoroti dampak perubahan iklim terhadap kehidupan orang muda, termasuk meningkatnya risiko eco-depression dan climate anxiety. Ia juga menegaskan bahwa masih terdapat kesenjangan antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan nyata generasi muda—yang perlu dijembatani melalui partisipasi bermakna.
Setelah sesi seminar, peserta mengikuti Focus Group Discussion (FGD) dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyusun policy brief. Setiap kelompok mensimulasikan proses negosiasi dan pengambilan keputusan antar aktor kebijakan, hingga menghasilkan rekomendasi konkret terkait konsumsi dan produksi berkelanjutan.
Hasil policy brief ini diharapkan menjadi bentuk kontribusi nyata orang muda dalam mendorong kebijakan lingkungan yang lebih progresif dan responsif terhadap tantangan zaman.
Melalui program ini, YPM menegaskan komitmennya untuk melawan budaya overconsumption sekaligus membangun kesadaran bahwa konsumsi bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga tindakan politis yang berdampak langsung pada masa depan lingkungan dan arah pembangunan bangsa.
Tentang Yayasan Partisipasi Muda (YPM)
Yayasan Partisipasi Muda (YPM) adalah organisasi nirlaba yang sejak 2017 berkomitmen memberdayakan orang muda untuk berpartisipasi secara bermakna dalam proses demokrasi dan kebijakan publik. Melalui pendidikan politik, pelatihan kepemimpinan, dan ruang partisipasi yang inklusif, YPM hadir untuk memastikan suara orang muda ikut menentukan arah masa depan bangsa.
Narahubung: Arief C. Nugraha | 0813-8600-9300 | Program Officer | [email protected]


